Kamis, 16 Juni 2016

Dekapan Luka



Entah harus kata apa yang akan digoreskan ?
Setiap bait demi bait
Tulisan itu…
Di balik makna tersirat
Kian usang
Tak tersentuh…
Dicaci waktu dihina kenyataan
Dalam penantian yang panjang
Lelap sekali tertidur…
Berdatanganlah mimpi-mimpi yang kian mnegusik
Hampir melenyap separuh ingatan
Bertahan hanyalah sebuah guyonan
Ketika kesetiaan dikoyak pengkhianatan !
Begitu sinis dunia itu,
Begitu sadis alur cerita yang dibuat
Apalah arti senyuman beku itu
Begitu terasa mati !
Sembunyi disaat dicari
Berpaling disaat sandaran itu runtuh
Meratap, mencari kepingan hati yang tertinggal,
Layaknya si bodoh kehilangan arah…
Tatapan dingin, gaya bicara angkuh !
Apalah artinya itu ?
Semua asing begitu berbeda…
Kepura-puraan melebur jadi satu !
Hebat ! terlihat lemah sekali
Dekapan luka ternyata basah lagi…
                                                                       



Cirebon, July 2012

Surau Kami



Ku lihat ia, dalam hari-hari biasa
Begitu sepi seperti tak berpenghuni
Megahnya, kokoh bangunannya, luas halamannya
Ku teliti…
Hanyalah paruh baya dan tua renta yang menghidupkannya

Aku rindu bulan istimewa tiba
Canda tawa anak-anak sebaya
Banyak pedagang kaki lima
Terjadi di surau kami…

Suara panggilannya begitu terdengar keras
Membangkitkan jiwa-jiwa yang layu
Menghidupkan hati-hati yang mati
Itulah surau kami…

Senangku dan sedihku jadi satu
Hanyalah terjadi di 1 bulan istimewa
Ramadhan tiba…
Senangku masih bertemu bulan itu
Sedihku setelah bulan itu berlalu
Surau kami kembali ke peradabannya
Nan sepi…

Andai seluruh bulan itu adalah Ramadhan
Surau kami tak akan pernah begini…

RINDU



Apalah artinya menunggu ?
Ketika aku tahu kau yang ku perjuangkan semakin menjauh…
Apalah artinya cinta ?
Ketika aku tahu kau tak pernah mencinta…
Apalah artinya genggaman ?
Ketika aku tahu kau dengan mudah melepaskan…

Bagi jiwa ini, kesetiaan tidaklah mudah disaat yang slalu diharapkan selalu membuat kecewa.
Kau tahu… Dunia semakin sinis disaat yang ku harap berjalan pergi tanpa kalimat terakhir.
Canda, tawa, tegur sapa hanya menguap menjadi kenangan semata.
Tak berarti lagi dan kau ucap apa itu yang disebut sebagai takdir.

Langit memang luas tak bertepi pandang…
Lalu bagaimanakah aku mengejar mimpiku ini yang kian menghilang ?
Tertatih…
Tangisanku tumpah lirih…

Hari ini matahari tak nampak
Tetesan langit itu mulai terjatuh
Nafasku mulai sesak
Pandanganku fokus ke arah nun jauh

Selalu ada cerita tentang sajak-sajak bersayap
Selalu ada do’a disetiap malam yang sunyi senyap
Yang ku hantarkan sebagai pengganti pelukan yang mendekap
Bahagiakah ?
Ceriakah kau di sana ?

Kini… Kepastian berjalan beriringan dengan kenyataan
Bagaimana bisa kau sampai sebisu ini ?
Mengapa kau memejamkan pandangan…
Lihatlah aku di sini…

Kekasihku, kecintaanku, idamanku…
Aku titipkan puisi ini sebagai pengganti bunga di pusara indahmu…
Salam rindu dariku.
Untukmu….

Ma'afkan Aku Mencintaimu...



Kala sore itu angin semilir menghadirkan sosokmu di antara bayang-bayang senja
Kamu tersenyum… Aku tersenyum…
Kata-kata dan sebuah sapa saling menguap, berurai menjadi sebuah perhatian
Oh cinta ternyata sesederhana ini…
Kita saling menanti kabar dalam dekap rindu dan resah bercampur gelisah
Gengsi masih menjadi juara dalam cerita tentang kita
Rasa takut kehilangan saling disembunyikan
Berjuta ragu tak bosan menghampiri
Berjuta tanya datang dan terus menyapa
Tapi tetap saja kita tak saling mengungkap rasa
Sungguh rasa ini perlahan membunuh !
Ma’afkan aku mencintaimu…